Skip to content

Dia datang lagi

January 12, 2010

“Semua berawal di-akhir dan berakhir di-awal…”, suatu kalimat yang menandakan tiada hentinya suatu proses kegiatan dalam waktu yang terus berjalan.

Hujan turun semakin sering akhir-akhir ini, menandakan semakin jauh kita melangkah kedalam musim hujan. Musim hujan selalu ditunggu oleh banyak orang, tidak hanya dalam artian positif yaitu yang berarti tersedianya air untuk berbagai keperluan, tetapi juga dalam artian negatif yaitu munculnya efek yang merugikan kegiatan manusia, seperti banjir.

Kota Jakarta adalah kota banjir, dan memang demikianlah dari jaman dahulu kala. Ini karena memang tinggi permukaan rerata Jakarta relatif terhadap muka air laut yang sama, dan ditambah lagi sistem pengairan yang masih jauh dari sempurna. Kambing hitam selalu dilemparkan pada air yang datang dari daerah selatan nun jauh disana, dan dikenal sebagai “banjir kiriman”. Disadari atau tidak peduli kenyataannya adalah banyak sekali daerah cekungan di seantero Jakarta yang menjadi tempat-tempat yang disukai oleh sang air tinggal berlama-lama di ibukota. Dan sang air bisa saja yang berasal dari udik jauh di selatan Jakarta, atau yang datang dari angkasa sebagai “hujan lokal”.

Selasa siang ini, dari hasil diskusi di ruang pertemuan NEOnet, di lantai 20 Gedung 1 BPPT, diputuskan untuk melakukan aksi terkait dengan isu banjir. Aksi mengatasi banjir..? Wow… nggak lah. Banjir memang bisa “diatasi” jika berada di lantai 20. Artinya ya berada jauh diatas muka air genangan yang selalu hadir di perempatan Sarinah saat hujan lebat. Bukan itu maksudnya. Yang akan dilakukan adalah membangun informasi penunjang terkait dengan isu banjir dan genangan di Jakarta dan sekitarnya.

Bukankah informasi banjir sudah ada dan buanyak sekali dapat ditemukan di belantara dunia maya? Juga di semua elemen yang sudah disiapkan oleh pemda DKI Jakarta..?

Betul sekali.

Lalu jika dikatakan sebagai pelengkap, bedanya apa..?

Mmm… pertama aksi ini adalah memang PR atau tugas yang tengah diemban oleh Program Harimau. Yaitu memanfaatkan data yang dihasilkan oleh Radar Cuaca, yang dimiliki Program ini, dan sudah terinstal dengan rapi di Puspitek Serpong, Tangerang. Radar ini digunakan untuk tujuan riset kerjasama dengan pihak Jepang (lebih detil sila baca di situs Program Harimau). Dari data Radar Cuaca ini informasi cuaca (hujan) juga diperoleh dengan cukup berlimpah. “Data limpahan” inilah yang kemudian akan (dan sebagian sedang) dikemas kedalam berbagai aplikasi terkait cuaca. Beberapa aplikasi yang tengah dibangun antara lain adalah aplikasi terkait banjir Jakarta dan kajian peramalan sebaran OPT tanaman padi.

Informasi hujan dan genangan “near real time” adalah hasil yang akan ditampilkan dan hasil ini diutamakan adalah untuk pelaksanaan validasi data Radar Cuaca, yang mempunyai cakupan cukup baik, beradius 110 km dari lokasinya di Serpong.

Pada pelaksanannya akan melibatkan publik sebagai salah satu sumber informasi “insitu”, dan informasi ini dikirim oleh relawan (informan?) melalui sms ke server pengolah data, kemudian ditampilkan pada web bersama dengan data dan informasi dari sumber lain yang telah diolah. Jadi tujuan utama adalah untuk memanfaatkan limpahan data dan sekaligus validasi. Jika dari sisi ini kemudian ada efek yang berguna bagi publik, tentunya itu adalah bonus yang luar biasa…

Dan… semua informasi akan disajikan dalam bentuk WebGIS, dan dapat diakses oleh publik.

Informasi dalam WebGIS..? Ah… akhirnya… dia datang lagi… :-)

Mohon dukungan rekan-rekan semua…

Terimakasih

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: